Jumat, 08 Juni 2012

Batik Kliwonan Tetap Eksis di Tengah Gempuran Batik China

Kamis, 22 Maret 2012 12:59 wib wib
Salah seorang warga Kliwonan tengah membatik (Foto: Genta W/okezone)
SRAGEN- Batik telah menjadi warisan budaya yang telah diakui dunia. Seiring perkembangan, batik telah mengalami evolusi dan motif-nya mengikuti mode. Jika awalnya motif batik kecil-kecil, pada 2012 ini trend bergeser menjadi motif besar-besar atau kelihatan nyata. “Motif memang terus mengalami perkembangan cukup menyenangkan, sebab motif berkembang karena seorang pemakai batik juga terlihat elegan dan bagus,” papar Hartatik, salah seorang pengrajin batik di Desa Wisata Batik Kliwonan, Pilang, Sragen, Jawa Tengah, kepada Okezone. Dia menambahkan kunjungan wisatawan ke desa tersebut mengalami peningkatan. Beberapa di antaranya membeli grosir, namun ada juga yang membeli eceran. Bahkan jika pengunjung menginginkan motif tertentu dan itu bisa disanggupi pengrajin maka juga akan dibuatkan. “Kalau memang pengrajin ingin dibuatkan motif yang bisa dikerjakan oleh pembatik maka tidak masalah. Artinya tetap akan dilayani,” tambahnya. Menurut Hartatik, meskipun saat ini omzet pembeli yang datang ke desa batik mulai mengalami peningkatan, namun membanjirnya pembeli selalu terjadi setiap menjelang arus balik saat lebaran. Rata-rata warga Sragen, Jawa Tengah, yang ingin pulang balik ke tempatnya mencari rejeki atau kota-kota lainnya di pulau Jawa, biasanya juga membeli oleh-oleh di pusat desa Wisata Batik Kliwonan. “Ada yang pertama kali membeli malah sekarang menjadi pedagang batik di kotanya. Hal ini cukup menggembirakan,” imbuhnya. Mengunjungi Desa Wisata Batik Kliwonan di Sragen ini tidaklah tidak terlalu sulit. Sebab daerah tersebut mudah untuk dijangkau, apalagi suasana pedesanan dengan hamparan sawah hijau membentang langsung menyapa ketika memasuki wilayah Desa batik Kliwonan. Keramahan penduduknya terpancar dari tatapan bersahabat dan senyum tulus tersungging, kala saling berpapasan. Di desa nan indah inilah pusat pengrajin batik tulis tradisional yang menjadi salah satu icon dan produk unggulan di Sragen, Jawa Tengah “Awalnya daerah tersebut bukan pembatik seperti kebanyakan desa lain.
Umumnya warga Kliwonan, Sragen, bermata pencaharian sebagi petani dan pedagang. Sayangnya, musim tanam tak terjadi sepanjang tahun. Saat bukan musim tanam, mereka tidak memiliki kegiatan yang berarti, lantas mereka menekuni batik tulis,” tambah Hartatik. Tipikal masyarakat Kliwonan, Pilang, Sragen, yang tak suka berpangku tangan menjadikan mereka melirik usaha batik sebagai kegiatan untuk mengisi waktu. Namun lama kelamaan menjadi sumber pendapatan selama bukan musim tanam.  Semula, selain dirinya, awal berdirinya sentra batik di Desa Kliwonan ini, dimotori hanya empat orang warga yang mencoba terjun ke bisnis batik. Mereka mempelajari seni membatik, kemudian mengembangkannya secara sederhana. Seiring berjalannya waktu, penduduk Kliwonan yang menekuni batik bertambah jumlahnya. Mereka pun mempelajari strategi pemasaran dan teknologi pembuatan batik yang lebih lengkap dan modern, sehingga dapat memproduksi dan memasarkan sendiri produknya secara lebih profesional. “Saat ini, hampir mayoritas penduduk Kliwonan mulai membatik. Bahkan, hasilnya banyak di jual di luar kota Sragen,” kata dia Bagaimana menghadapi batik dari China ? Hartatik mengaku tidak terlalu khawatir. Sebab batik China dan batik asli Kliwonan, Pilang, Sragen, mempunyai ciri khas yang berbeda. Jika batik Kliwonan itu batik tulis yang dibuat dari bahan-bahan alami sehingga hasilnya lebih bagus dan indah, sementara batik China itu dicap sehingga sudah tertata rapi. “Dari segi harga memang lebih murah dari China. Sedangkan batik Kliwonan menggunakan tangan dan penuh ketelitian. Sehingga hasilnya luar biasa,” ungkap Hartatik sedikit berpromosi.
(kem).

TNI membantah Tentang serangan di papua

TNI menolak tuduhan yang menyebut sejumlah anggotanya melakukan serangan di Distrik Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Kamis (07/06). Sejumlah laporan sebelumnya menyebutkan, sejumlah anggota TNI menyerang, membakar dan melukai beberapa warga di di sebuah kampung di Desa Honai Lama, Distrik Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Akibat serangan itu, lanjut laporan itu, menyebabkan sedikitnya satu orang warga setempat tewas dan belasan lainnya mengalami luka-luka.Sejumlah bangunan rumah di desa itu juga dibakar, demikian laporan situs online yang dikutip beberapa media terbitan Australia dan media lokal Indonesia."Tidak, tidak ada (serangan anggota TNI) itu," kata Kepala Penerangan Kodam XVII Cendrawasih Letnan Kolonel Ali Hamdan Bogra kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, melalui telepon, pada Jumat (08/06) siang WIB. . Dia juga membantah informasi yang menyebut para anggota TNI membakar sejumlah bangunan di desa tersebut dan melakukan penembakan. "Berita (tentang penyerangan anggota TNI) itu menyesatkan," kata Ali Bogra. Namun demikian, Ali Hamdan Bogra mengakui para anggota TNI yang bertugas di wilayah tersebut marah setelah mengetahui dua anggota TNI dkeroyok warga Desa Honai Lama, yang menyebabkan satu orang tewas dan lainnya luka kritis. "Jadi anggota (TNI) kita memang tadinya marah dan mereka datang (ke Desa Honai Lama), tetapi dibatasi oleh perwiranya dan di suruh kembali (ke pangkalannya)," kata Ali, menjelaskan. Menurutnya, para anggota TNI yang marah itu akhirnya menuruti ajakan para perwira itu. "Jam lima (Waktu Indonesia Timur) mereka sudah dikembalikan ke pangkalannya," jelasnya.Sementara itu, Polda Papua mengakui ada kasus kekerasan yang diduga melibatkan sejumlah anggota TNI terhadap warga Desa Lama Honai, Distrik Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Kamis (07/06). Wakapolda Papua Brigjen Paulus Waterpauw mengatakan, para anggota TNI yang diduga terlibat dalam kasus kekerasan ini akan ditangani langsung oleh kesatuan yang membawahinya. "Kalau untuk pelanggaran disiplin maupun hukum, yang diduga dilakukan (anggota TNI) akan ditangani komandan kesatuannya, dalam hal ini bapak panglima (Kodam XVII Cenderawasih)," kata Paulus Waterpauw kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, melalui telepon, Jumat (08/06) pagi.  Namun demikian, menurut Paulus Waterpauw, Polda Papua akan menindaklanjuti secara hukum kasus penganiayaan terhadap dua anggota TNI yang dikeroyok massa di Wamena, Papua, Rabu (06/06) lalu. "Kita akan memprosesnya," kata Paulus, singkat. Akibat pengeroyokan ini, sejumlah laporan menyebutkan, anggota TNI bernama Pratu Ahmad Saifudin tewas, sementara rekannya Pratu Ahmad Saelan mengalami luka parah. Pengeroyokan terhadap dua anggota TNI ini terjadi sehari sebelum kasus kekerasan yang diduga dilakukan sejumlah anggota TNI di Desa Lama Honai, Wamena. Paulus Waterpauw menjelaskan, penyerangan terhadap kedua anggota TNI ini bermula ketika sepeda motor yang mereka tumpangi menabrak seorang bocah yang tinggal di wilayah tersebut."Kemudian anggota (TNI) itu turun dan membawa anak itu ke keluarganya. yang waktu itu sedang ada acara," jelasnya. "Tapi yang terjadi kemudian saat (anak itu) dibawa, keluarga itu mengeroyok anggota (TNI) itu sampai meninggal," tambah Paulus.