Kamis, 22 Maret 2012 12:59 wib wib
SRAGEN- Batik telah menjadi warisan budaya yang telah diakui dunia. Seiring perkembangan, batik telah mengalami evolusi dan motif-nya mengikuti mode. Jika awalnya motif batik kecil-kecil, pada 2012 ini trend bergeser menjadi motif besar-besar atau kelihatan nyata. “Motif memang terus mengalami perkembangan cukup menyenangkan, sebab motif berkembang karena seorang pemakai batik juga terlihat elegan dan bagus,” papar Hartatik, salah seorang pengrajin batik di Desa Wisata Batik Kliwonan, Pilang, Sragen, Jawa Tengah, kepada Okezone. Dia menambahkan kunjungan wisatawan ke desa tersebut mengalami peningkatan. Beberapa di antaranya membeli grosir, namun ada juga yang membeli eceran. Bahkan jika pengunjung menginginkan motif tertentu dan itu bisa disanggupi pengrajin maka juga akan dibuatkan. “Kalau memang pengrajin ingin dibuatkan motif yang bisa dikerjakan oleh pembatik maka tidak masalah. Artinya tetap akan dilayani,” tambahnya. Menurut Hartatik, meskipun saat ini omzet pembeli yang datang ke desa batik mulai mengalami peningkatan, namun membanjirnya pembeli selalu terjadi setiap menjelang arus balik saat lebaran. Rata-rata warga Sragen, Jawa Tengah, yang ingin pulang balik ke tempatnya mencari rejeki atau kota-kota lainnya di pulau Jawa, biasanya juga membeli oleh-oleh di pusat desa Wisata Batik Kliwonan. “Ada yang pertama kali membeli malah sekarang menjadi pedagang batik di kotanya. Hal ini cukup menggembirakan,” imbuhnya. Mengunjungi Desa Wisata Batik Kliwonan di Sragen ini tidaklah tidak terlalu sulit. Sebab daerah tersebut mudah untuk dijangkau, apalagi suasana pedesanan dengan hamparan sawah hijau membentang langsung menyapa ketika memasuki wilayah Desa batik Kliwonan. Keramahan penduduknya terpancar dari tatapan bersahabat dan senyum tulus tersungging, kala saling berpapasan. Di desa nan indah inilah pusat pengrajin batik tulis tradisional yang menjadi salah satu icon dan produk unggulan di Sragen, Jawa Tengah “Awalnya daerah tersebut bukan pembatik seperti kebanyakan desa lain.
Umumnya warga Kliwonan, Sragen, bermata pencaharian sebagi petani dan pedagang. Sayangnya, musim tanam tak terjadi sepanjang tahun. Saat bukan musim tanam, mereka tidak memiliki kegiatan yang berarti, lantas mereka menekuni batik tulis,” tambah Hartatik. Tipikal masyarakat Kliwonan, Pilang, Sragen, yang tak suka berpangku tangan menjadikan mereka melirik usaha batik sebagai kegiatan untuk mengisi waktu. Namun lama kelamaan menjadi sumber pendapatan selama bukan musim tanam. Semula, selain dirinya, awal berdirinya sentra batik di Desa Kliwonan ini, dimotori hanya empat orang warga yang mencoba terjun ke bisnis batik. Mereka mempelajari seni membatik, kemudian mengembangkannya secara sederhana. Seiring berjalannya waktu, penduduk Kliwonan yang menekuni batik bertambah jumlahnya. Mereka pun mempelajari strategi pemasaran dan teknologi pembuatan batik yang lebih lengkap dan modern, sehingga dapat memproduksi dan memasarkan sendiri produknya secara lebih profesional. “Saat ini, hampir mayoritas penduduk Kliwonan mulai membatik. Bahkan, hasilnya banyak di jual di luar kota Sragen,” kata dia Bagaimana menghadapi batik dari China ? Hartatik mengaku tidak terlalu khawatir. Sebab batik China dan batik asli Kliwonan, Pilang, Sragen, mempunyai ciri khas yang berbeda. Jika batik Kliwonan itu batik tulis yang dibuat dari bahan-bahan alami sehingga hasilnya lebih bagus dan indah, sementara batik China itu dicap sehingga sudah tertata rapi. “Dari segi harga memang lebih murah dari China. Sedangkan batik Kliwonan menggunakan tangan dan penuh ketelitian. Sehingga hasilnya luar biasa,” ungkap Hartatik sedikit berpromosi.
(kem).
Umumnya warga Kliwonan, Sragen, bermata pencaharian sebagi petani dan pedagang. Sayangnya, musim tanam tak terjadi sepanjang tahun. Saat bukan musim tanam, mereka tidak memiliki kegiatan yang berarti, lantas mereka menekuni batik tulis,” tambah Hartatik. Tipikal masyarakat Kliwonan, Pilang, Sragen, yang tak suka berpangku tangan menjadikan mereka melirik usaha batik sebagai kegiatan untuk mengisi waktu. Namun lama kelamaan menjadi sumber pendapatan selama bukan musim tanam. Semula, selain dirinya, awal berdirinya sentra batik di Desa Kliwonan ini, dimotori hanya empat orang warga yang mencoba terjun ke bisnis batik. Mereka mempelajari seni membatik, kemudian mengembangkannya secara sederhana. Seiring berjalannya waktu, penduduk Kliwonan yang menekuni batik bertambah jumlahnya. Mereka pun mempelajari strategi pemasaran dan teknologi pembuatan batik yang lebih lengkap dan modern, sehingga dapat memproduksi dan memasarkan sendiri produknya secara lebih profesional. “Saat ini, hampir mayoritas penduduk Kliwonan mulai membatik. Bahkan, hasilnya banyak di jual di luar kota Sragen,” kata dia Bagaimana menghadapi batik dari China ? Hartatik mengaku tidak terlalu khawatir. Sebab batik China dan batik asli Kliwonan, Pilang, Sragen, mempunyai ciri khas yang berbeda. Jika batik Kliwonan itu batik tulis yang dibuat dari bahan-bahan alami sehingga hasilnya lebih bagus dan indah, sementara batik China itu dicap sehingga sudah tertata rapi. “Dari segi harga memang lebih murah dari China. Sedangkan batik Kliwonan menggunakan tangan dan penuh ketelitian. Sehingga hasilnya luar biasa,” ungkap Hartatik sedikit berpromosi.
(kem).
Saya bangga dengan warga sragen yang slalu menjaga kualitas batiknya.
BalasHapusUntuk Pengerajin Batik sragen moga exis slalu
( amin )